Showing posts with label Parenting / Pendidikan Anak. Show all posts
Showing posts with label Parenting / Pendidikan Anak. Show all posts

Tuesday, October 5, 2010

Online Tutorial - Free Homework Help

0 Comments
My Cousin asked me to help her finishes her math homework. I begin to think, it will be much nicer if we have online tutorial for math. Then, I found that Tutornext offer FREE homework help and online math tutorial for K-12 and college students.

Tutornext is an online guide for learning mathematics, and science. learning systems and online guidance so realtime interactive and easily understood by school and college students. With examples of problem-solving in a simple and easy to understand will make the students liked the tough subjects such as math and science.

Since 2006, Tutornext, Math problem solver, has helped Thousands of students with online tutoring, math homework help, free homework help. I have try online tutoring, that exacly 24 hour Tutor Availability, Content in Math, Chemistry and other Science, in English.

Tutornext provide you online tutoring in free Math help, Math Word Problem, Homework, College Algebra, Calculus, Factoring polynomials, Physic and more sciences with cheapest rate and easy. Assignment Help and Online Tutoring services are convenient and affordable, students can connect to a tutor as often as they need help and just when they are ready to learn. I think this is easy and good online tutoring.

Read more...

Saturday, September 18, 2010

World Class Online Tutoring and Help

2 Comments
When i was in elementary and high school years Mathematics, Geometry, Chemistry, and Physics are difficult lesson and i so confused how to learn them. In facts, almost all students have the same problem on how difficult to learn them. Some parents used to hire a private tutor to solve it.

Today, extra help, such as online tutoring, can offer other explanations and different ways to solve Math questions, Geometry, Chemistry and Physics like the ones assigned in class or as homework. It can offer extra time to practice and refine skills.

Online tutoring offers specialized, focused attention, Math help, Geometry help, Chemistry help, Physics help to our child. Unlike a conventional tutor who helps our child with their homework, online tutoring helps our child learn the skills they need to succeed at their homework and in-class assignments.

Our child doesn't need to struggle with or hate Mathematics, Geometry, Chemistry, and Physics. The extra homework help that online tutoring provides can help child enjoy learning Mathematics, Geometry, Chemistry, and Physics. And you will be surprised at how quickly the once unsolvable problems will be answered. For example, students will find Chemistry homework help and Prime numbers explanation.

One of the best online tutoring and help is TutorVista. They have all the answer that students are looking for. Online tutoring can help solve your child's homework problems by providing them with a strong knowledge in a way they understand. Online tutoring offers the individualized attention that many students need to succeed.


Read more...

Monday, May 31, 2010

How to Get Online Math Tutoring and Help


Talking about math, i remembered when i was in elementary and high school years. Mathematics is a difficult lesson and i so confused how to learn it. In facts, almost all students have the same problem on how difficult to learn mathematics. Some parents used to hire a private math tutor to solve it.

Today, extra help, such as online math tutoring, can offer other explanations and different ways to solve math problems, fractions and algebra like the ones assigned in class or as homework. It can offer extra time to practice and refine skills, creating a strong foundation for learning the higher level mathematics like algebra and trigonometry.

Online tutoring offers specialized, focused attention, algebra help and math help to our child. Unlike a conventional tutor who helps our child with their homework, online tutoring helps our child learn the math skills they need to succeed at their homework and in-class assignments.

Our child doesn't need to struggle with or hate math. The extra homework help that online tutoring provides can help child enjoy learning math. And you will be surprised at how quickly the once unsolvable problems will be answered.

One of the best online math tutoring and help is TutorVista. They have all the math answer students are looking for. Not only that, students will also find free algebra help and algebra word problems in Tutorvista.

Online math tutoring can help solve your child's homework problems by providing them with a strong knowledge of mathematics in a way they understand. Online math tutoring offers the individualized attention that many students need to succeed.


Read more...

Tuesday, March 9, 2010

Sidik Jari dan Pola Belajar Anak

1 Comments
sidik jari anak
Setiap anak memiliki pola belajar yang berbeda-beda. Jika pola yang dterapkan tidak sesuai dengan karakter si anak maka anak akan sulit untuk menerima pelajaran. Tapi pola belajar anak bisa ditentukan berdasarkan analisis sidik jari si anak.

"Tak jarang orangtua memaksakan anaknya mengikuti les yang tidak diminati anak. Jika orangtua tidak bisa mengenali potensi bakat, motivasi, karakter dan gaya belajar anak maka akan sulit untuk memberi stimulus dan pengarahan yg tepat," ujar Andrian Benny Hidayat, Direktur Psycho-biometric Lab R&D Talent Spectrum & DIC Fingerprint Analysis, dalam acara kenali gaya belajar yang cocok untuk anak melalui analisa sidik jari di wisma BPPT, Jln Sudirman, Jakarta, Sabtu (6/3/2010).

Andrian menambahkan analisa sidik jari ini adalah sebuah metode pengukuran dengan cara pemindaian (scanning) sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang paling dominan dan berkaitan dengan bakat, karakter dan gaya belajar anak. Karena pengenalan bakat anak merupakan investasi modal awal untuk membantu meraih cita-cita si kecil.

Berdasarkan penelitian oleh ahli dermatoglyphics dan neuro-anatomy didapatkan bahwa pola sidik jari bersifat genetis dan telah muncul saat janin dalam kandungan berusia 13-24 minggu.

"Analisis sidik jari tidak mengungkapkan kecerdasan seseorang, tapi hanya mengungkapkan potensi yang ada dalam diri si anak. Dengan pengarahan yang tepat maka bisa meningkatkan kecerdasannya," ujar Andrian yang lahir di Australia 35 tahun lalu.

Dengan analisis sidik jari dapat diketahui apakah pola belajar anak termasuk yang visual (melihat), auditori (mendengar) atau kinestetik (sentuhan dan gerakan).

A. Gaya belajar visual

1. Cenderung menggunakan indera penglihatan
2. Lebih suka membaca
3. Peka terhadap warna
4. Duduk tenang saat belajar di tengah situasi yang ribut
5. Biasanya akan melihat orang lain terlebih dahulu sebelum bertindak.

Kendalanya

1. Tak suka berbicara di depan umum
2. Kurang mengingat info yang diberikan secara lisan.

Cara menstimulasinya

1. Memintanya untuk membayangkan objek yang sedang dipelajari
2. Meningkatkan motivasi serta percaya dirinya.


B. Gaya belajar auditory

1. Mudah ingat dari apa yang didengarnya
2. Senang dibacakan
3. Mudah mempelajari bahas asing
4. Dapat membaca dengan baik sehingga ia bisa mengingat dengan baik apa yang baru dibacanya karena secara otomatis ia mendengarkan suaranya sendiri.

Kendalanya

1. Cenderung banyak omong
2. Tak bisa belajar dalam suasana ribut
3. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya.

Cara menstimulasinya

1. Bisa dengan melibatkannya dalam kegiatan diskusi
2. Melakukan review secara verbal
3. Memberinya pujian secara lisan.


C. Gaya belajar kinestetik

1. Gemar menyentuh sesuatu yang dijumpainya
2. Menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
3. Banyak gerakan fisik dan koordinasi tubuh yang baik
4. Saat membaca menunjuk kata-katanya dengan jari tangan
5. Unggul dalam olahraga dan keterampilan tangan
6. Menggunakan gerakan tubuh saat mengungkapkan sesuatu.

Kendalanya

1. Sulit mempelajari hal yang abstrak
2. Anak tak bisa duduk diam saat belajar
3. Energinya cukup tinggi sehingga jika tak disalurkan dapat berpengaruh pada konsentrasi belajarnya.

Cara menstimulasinya

1. Bisa dengan belajar di sekolah yang menganut sistem active learning
2. Belajar dengan menggunakan model peraga
3. Bebaskan beraktifitas sebelum belajar
4. Berikan reward dengan memberinya kesempatan untuk melakukan kegiatan yang disukainya.

"Selain pola belajar yang tepat ada juga faktor lain yang dapat mempengaruhi yaitu motivasi, lingkungan dan juga guru yang mengajar," ujar Andrian.

Andrian menceritakan ada murid yang memiliki bakat musik tapi nilai musiknya selalu jelek. Ternyata setelah diselidiki ia tidak suka dengan gurunya.

"Dengan memahami potensi bakat anak, kita sebagai orangtua dapat tahu cara terbaik yang bisa ditempuh anak untuk mencapai prestasinya. Selain itu bakat yang lebih kuat dapat dikembangkan dengan tenaga dan biaya serta waktu yang lebih efisien," tambahnya.

Read more...

Wednesday, January 20, 2010

Cara Supaya Anak Kecil Mau Makan Sayuran


Ayo tebak, makanan apa yang paling dijauhi anak kecil? Sebagian besar pasti akan menjawab sayuran. Padahal sayuran adalah sumber serat yang dibutuhkan. Apa penyebab anak tak suka sayuran?

Anak-anak sebenarnya memiliki selera yang lebih banyak dibandingkan orang dewasa, ini sebabnya anak kecil lebih kuat dalam mengenal suatu rasa.

Diperkirakan sekitar 50 persen lebih anak kecil tidak menyukai sayuran. Beberapa psikolog dan ahli gizi mengklaim hal ini disebabkan anak kecil tidak mendapatkan rasa yang enak dari makanan tersebut.

Orangtua yang memiliki kebiasaan makan buruk akan menularkannya pada anak. Umumnya orangtua yang tidak makan sayuran, anaknya pun akan tidak menyukai sayuran. Tapi hanya beberapa kasus saja yang seperti itu.

Penelitian yang dilakukan di Monell Chemical Senses Center, Philadelphia didapatkan bahwa anak-anak memiliki keengganan terhadap rasa pahit. Karenanya anak kecil lebih suka rasa manis dibandingkan dengan rasa pahit.

Seperti dikutip dari Nutrition, Rabu (20/1/2010) penelitian baru ini juga menemukan sebuah gen TAS2R38 yang kemungkinan bertanggung jawab terhadap ketidaksukaan anak pada sayuran. Kepekaan terhadap rasa pahit ini bervariasi tergantung dari varian gen yang dimiliki.

Penelitian ini melibatkan 143 anak dan ibunya, didapatkan lebih dari 79 persen anak-anak memiliki 1 atau 2 gen yang sensitif terhadap rasa pahit.

Anak-anak lahir dengan memiliki lebih dari 10.000 sensor pengecap. Seiring berjalannya waktu pengecap ini makin lama akan berkurang hingga saat dewasa hanya memiliki 3.000 pengecap. Sehingga rasa sayuran atau makanan lain akan lebih kuat terasa oleh anak-anak dibanding orang dewasa.

Jika anak tak suka sayuran, maka orangtua harus kreatif dalam mengolahnya agar rasa sayuran tidak terlalu dominan. Orangtua bisa mencampurkan irisan kecil tomat, wortel, paprika atau sayuran lain dalam nasi goreng atau spaghetti.

Cara lainnya adalah memasukkan sayuran ke dalam campuran adonan roti isi dengan memblendernya terlebih dahulu agar bentuknya tersamarkan, atau mengikutsertakan anak dalam menyiapkan makanan dan memintanya memasukkan beberapa potong sayuran ke dalam makanan tersebut.

Sayuran merupakan salah satu sumber serat yang juga dibutuhkan oleh anak-anak, jangan memaksanya jika anak tidak mau karena anak akan semakin kuat memberikan penolakan. Berilah contoh cerita yang menunjukkan betapa pentingnya sayuran bagi tubuh serta cobalah untuk mengonsumsi sayuran secara bersama-sama dengan orangtua.[health.detik.com]


Read more...

Sunday, December 20, 2009

Tips Mengajarkan Anak Bahasa Asing

0 Comments
Di era globalisasi seperti ini, penguasaan bahasa asing mutlak diperlukan. Tak heran jika banyak orangtua yang memasukkan anaknya ke sekolah bilingual (dua bahasa) agar anaknya bisa menguasai bahasa asing dengan baik. Bagaimana cara efektif mengajarkan anak bahasa asing sejak dini?

"Mengajarkan anak bahasa asing bisa dimulai sejak usianya di atas 4 tahun, karena pada saat itu anak sudah mengerti bahasa ibunya dan memiliki struktur bahasa yang kuat. Mulailah mengajarkan hal-hal yang sederhana, misalnya belajar angka, warna atau bentuk," ujar Muhammad Rizal, Psi, psikolog pendidikan anak saat dihubungi detikHealth, Kamis (17/12/2009).

Anak kecil memang memiliki kemampuan untuk menyerap segala sesuatu lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa. Tapi pada anak yang masih sangat kecil, kemampuan menyerapnya tidak sebanding dengan kemampuan sang anak untuk mengaplikasikannya.

"Jadi sebaiknya lihat juga sisi kemampuan dari si anak, apakah anak sudah kuat struktur bahasa ibunya (bahasa Indonesia) atau belum," ujar psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan UI.

Rizal mencontohkan banyak kejadian anak yang dimasukkan ke sekolah bilingual tapi belum memiliki struktur bahasa ibu yang kuat menjadi bingung. Anak tidak tahu bahasa apa yang seharusnya digunakan, sehingga nantinya anak malah menggunakan bahasa 'gado-gado'. Ini karena banyak orangtua yang memaksakan anaknya untuk belajar bahasa asing hanya ikut-ikutan tren atau gengsi saja tanpa melihat kemampuan dari si anak.

Cara efektif untuk merangsang anak menyukai bahasa asing adalah orangtua sebaiknya mengajarkan atau mengenalkan anaknya terlebih dahulu dasar-dasar dari bahasa asing tersebut di rumah, sebelum memasukkan anak ke lembaga belajar. Hal-hal yang ditemui sehari-hari di rumah bisa dijadikan contoh untuk memulai, misalnya menunjuk benda-benda dengan bahasa asing. Selanjutnya bisa mulai belajar angka, warna atau bentuk dengan pengenalan sambil bermain.

Dari hal-hal kecil itu, orangtua bisa melihat kemampuan si anak menyerap dan mengucapkannya. Jika sudah siap tak ada salahnya memasukkan anak ke lembaga atau kursus bahasa.

Rizal memberikan beberapa tips dalam memilih lembaga atau kursus bahasa asing untuk si kecil yaitu:
1. Pilihlah tempat yang tidak membuka kelas untuk anak yang masih sangat kecil, ini berarti lembaga tersebut memang memperhatikan kemampuan dari anak-anak.
2. Melihat siapa yang mengajar dan sudah berapa lama lembaga tersebut berdiri.
3. Perhatikan metode yang digunakan, karena anak kecil lebih menyukai metode belajar sambil bermain.

Tapi bagaimana jika sudah dikursuskan anak belum juga mampu bercakap bahasa yang dipelajari?

"Jika ada anak yang sudah kursus dan belajar bahasa asing secara maksimal tapi tetap saja tidak memberikan hasil yang baik, berarti anak tersebut memang belum memiliki kemampuan belajar dan mengingat yang matang. Jadi jangan dipaksakan, karena sama saja bohong," ujar psikolog yang lulus tahun 1997 ini.

Menurutnya, agar pembelajaran bahasa si anak tidak sia-sia, orangtua juga harus terlibat dengan anak dalam aktivitasnya di rumah meskipun si orangtua punya kemampuan terbatas dalam bahasa asing, tapi orangtua bisa memancing anak berbicara dalam bahasa asing.

Usia emas (golden age) seorang anak memang 5 tahun pertama kehidupannya, yaitu seorang anak akan menyerap segala sesuatunya dengan sangat cepat dibandingkan orang dewasa. Itu sebabnya banyak yang bilang semakin dini anak belajar bahasa asing maka hasilnya akan semakin bagus.

Tapi ada hal lain yang harus diingat, yakni perhatikan juga kemampuan si anak, apakah anak sudah bisa mengaplikasikannya dengan benar atau tidak agar nantinya anak tidak menjadi bingung. Dan jangan pernah memaksakan anak untuk belajar sesuatu jika anak memang belum mampu.[health.detik]

Read more...

Thursday, December 10, 2009

Anak Bermain sampai Kotor itu Menyehatkan

1 Comments
mainan anakMungkin anda bingung membaca judul di atas, anak bermain sampai kotor kok menyehatkan? Tapi itulah faktanya. Berikut penjelasannya ....

Pernah mendengar istilah kotor itu baik? Ternyata sebuah penelitian di Amerika Serikat membuktikan orangtua yang membiarkan anaknya bermain di lumpur atau memakan makanan yang jatuh ke lantai bisa melindungi anak dari penyakit jantung di kemudian hari.

"Penelitian kami menunjukkan lingkungan yang terlalu bersih di awal kehidupan bisa menyebabkan seseorang lebih mudah terkena peradangan saat dewasa nanti yang pada akhirnya meningkatkan risiko terhadap berbagai penyakit termasuk jantung," ujar Thomas McDade ketua penelitian, seperti dikutip dari MSNNews, Kamis (10/12/2009).

Para peneliti dari Northwestern University, Illinois melihat data dari sebuah penelitian di Filipina yang melibatkan anak baru lahir hingga usianya mencapai 22 tahun. Data yang dikumpulkan merupakan 3.327 anak yang lahir pada tahun 1980-an di Filipina.

Anak-anak tersebut setiap dua bulan sekali selama dua tahun pertama kehidupannya dikontrol, lalu dilanjutkan setiap empat atau lima tahun hingga anak tersebut mencapai usia 20-an tahun. Beberapa hal yang diteliti adalah kebersihan dari lingkungan rumah dan juga sosial ekonomi keluarganya.

Tes darah yang dilakukan saat anak tersebut mencapai dewasa menunjukkan bahwa meskipun di Filipina banyak balita terkena penyakit infeksi dibandingkan anak-anak di Amerika, tapi kadar dari C-reactive protein (CRP) saat anak tersebut dewasa didapatkan 80 persen lebih rendah daripada Amerika. Di Filipina rata-rata konsentrasi CRP sebesar 0,2 mg/L sedangkan di Amerika 1-1,5 mg/L.

Penelitian yang diterbitkan Proceedings of the Royal Society adalah orang dewasa yang memiliki nilai CRP tinggi lebih banyak mengalami peradangan, hal ini berhubungan dengan terlalu bersihnya lingkungan bermain saat masih anak-anak. CRP adalah protein patologik yang ditemukan dalam darah jika terjadi peradangan akut atau adanya jaringan yang rusak.

"Kesimpulan penelitian ini adalah pentingnya mengekspos mikroba dan bakteri umum pada manusia sejak masih anak-anak, sehingga kekebalan tubuhnya sudah terbentuk," ungkap profesor antropolagi di Northwestern University.

Bakteri dan mikroba ini mungkin tidak mengakibatkan penyakit klinis langsung, tetapi memainkan peranan yang penting dalam mendukung pembangunan sistem kekebalan tubuh.[health.detik.com]

Jadi, masihkah anda melarang anak anda bermain sampai kotor?

Read more...

Saturday, August 8, 2009

Balon Tiup & Daftar Mainan Berbahaya bagi Balita

4 Comments
balon tiup, mainan balita, bahayaAnak anda suka bermain balon? waspadalah! tulisan berikut mengupas tentang bahaya bermain balon tiup dan daftar mainan yang berbahaya bagi balita maupun anak-anak.

Mainan balon tiup bisa berbahaya bagi anak karena mengandung zat berbahaya dan merusak tubuh ketika anak memasukkannya ke mulut waktu meniupnya. Balon tiup juga berbahaya bagi anak di bawah usia 8 tahun karena sering menyebabkan anak tersedak.

Seperti dikutip dari Childrenmercy, Jumat (7/8/2009) ada beberapa kasus dimana ketika balon yang pecah saat ditiup kemudian masuk ke dalam mulut dan tenggorokan atau tertelan yang membuat anak tersedak. Bagian tersebut akan menempel pada tenggorokan dan menutupi saluran pernafasan, karena bagian dari balon tersebut lengket sehingga sulit untuk mengeluarkannya.

Sejak tahun 1988, Consumer Product Safety Commission (CPSC) telah memberikan peringatan keselamatan terhadap bahaya mati lemas akibat balon tiup ini, karena balon penyebab utama kematian anak karena tersedak.

"Sebaiknya tidak memberikan anak mainan balon tiup karena bisa mengandung zat berbahaya dan merusak tubuh. Anak-anak akan meletakkannya dimulut, dan hal ini bisa berisiko anak menghisap zat tersebut hingga masuk ke tubuh atau anak bisa tertelan mainan tersebut," ujar Nychelle Fleming, juru bicara Consumer Product Safety Commission (CPSC).

Kecelakaan akibat balon tiup ini bisa terjadi dengan dua cara. Beberapa anak akan meletakkan balon tersebut ke dalam mulutnya sambil ditiup. Ini bisa terjadi ketika anak yang meniup balon menghisap zat-zat yang bisa jadi berbahaya bagi tubuh seperti etil asetat yang sangat berbahaya jika terhisap dan memberikan efek jangka panjang.

Atau bisa juga disebabkan oleh bagian dari balon tersebut yang pecah saat ditiup dan tertelan oleh anak, yang menyebabkan anak tersedak dan tidak bisa bernapas karena salurannya terhambat.

Karena bahaya tersebut, CPSC merekomendasikan bahwa anak di bawah usia 8 tahun tidak boleh memainkan balon tiup dan perlu pengawasan dari orang dewasa. Serta jika ada balon yang pecah sebaiknya membuang semua serpihan-serpihannya agar tidak dimainkan kembali oleh anak.

Berikut ada beberapa mainan lain yang sebaiknya dihindari untuk diberikan kepada anak-anak berdasarkan National Safe Kids Campaign:

1. Mainan yang kecil dan bisa dilepas, karena bagian-bagian kecil tersebut bisa tertelan oleh anak-anak dan bahaya untuk anak dibawah usia 3 tahun.
2. Mainan dengan ujung yang tajam, karena bagian tersebut bisa melukai anak maupun orang lain disekitarnya.
3. Mainan yang menghasilkan suara yang keras, mainan ini seperti senjata atau perekam suara yang suaranya keras karena bisa merusak sistem pendengaran anak.
4. Mainan elektrik, hindari mainan yang menggunakan elemen listrik untuk anak di bawah usia 8 tahun karena berisiko terbakar dan anak belum terlalu mengerti.
5. Mainan cat warna yang berbahaya, khususnya jika zat warna tersebut mengandung zat kimia yang bisa menyebabkan kerusakan pada otak, ginjal dan sistem saraf anak.
6. Mainan dengan tali yang panjang, karena bisa berbahaya dan anak bisa tercekik.


"Sebaiknya tidak mencampur mainan untuk anak yang lebih tua dengan mainan anak yang masih kecil, karena jika anak yang lebih kecil belum bisa memahami cara menggunakan maianan kakaknya akan berakibat merugikan sang anak," ujar Fleming.

Berikan mainan yang sesuai dengan umur sang anak, sehingga anak mengerti bagaimana cara menggunakannya dan menghindari kecelakaan yang timbul.

Tulisan tentang bahaya balon tiup dan daftar mainan yang berbahaya bagi balita ini bersumber dari: DetikHealth, National Safe Kids Campaign, Childrenmercy, Consumer Product Safety Commission (CPSC).

Read more...

Friday, July 31, 2009

Slow and Steady, Get me Ready

0 Comments
Judul diatas adalah judul buku yang saya rekomendasikan untuk anda yang mempunyai anak balita. Buku ini bisa dijadikan panduan bagi orang tua untuk membuat anak menjadi cerdas dan pintar dengan biaya yang murah karena memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitar kita. Jadi anda tidak perlu membeli mainan mahal.

Data buku,
Judul : Slow and steady, Get me ready
Pengarang : June R Oberlander
Penerbit versi Indonesia: PT. Primamedia Pustaka, kelompok Gramedia majalah

Buku ini disusun untuk memandu orang tua dalam membimbing anak sejak bayi sampai usia 5 tahun. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang mudah dan diperlukan bagi pembaca. Berisi 260 kegiatan mingguan untuk si kecil. Aktivitas diberikan setiap minggu selama 5 tahun dan berlangsung selama sekitar 10 menit. Semua aktivitas menggunakan peralatan biasa yang mudah dibuat dan murah. Aktivitas-aktivitas tersebut mengembangkan ketrampilan anak secara aman dengan petunjuk yang tepat.

Buku ini dilengkapi dengan parameter ukur bagi pengembangan anak dan tips untuk mengatasi dilema yang berhubungan dengan tingkah laku anak dan perkembangan otaknya sejak awal.

Semoga info ini bermanfaat bagi pendidikan anak anda.

Read more...

Thursday, January 22, 2009

Taat Vs Bertanggung Jawab

4 Comments
Untuk menciptakan individu yang baik, orangtua harus mendidik anak untuk menjadi anak yang tidak hanya taat tetapi menjadi anak yang bertanggung jawab. Seorang anak yang punya karakter bertanggung jawab mengetahui dan melakkan apa yang diharapkan darinya. Anak akan melakukan sesuatu karena tahu bahwa itulah yang harus dia lakukan.

Anak yang taat akan tunduk pada pribadi tertentu, misalnya orangtua atau guru. Sedangkan anak yang bertanggung jawab akan tunduk pada prinsip. Dia mengerjakan tugas sekolah dengan baik bukan karena tunduk pada guru atau orangtua, tapi karena dia tahu bahwa sebagai murid tanggung jawab utamanya adalah belajar dan berupaya menguasai materi pelajaran sebaik-baiknya.

Andai anak dididik menjadi anak yang bertanggung jawab (dan bukan sekedar taat) maka karakter tanggung jawab itu akan membawanya pada sikap jujur, mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, berani membela yang benar, peduli, adil, serta tulus membantu teman yang membutuhkan. Semua itu tentu akan membangun hubungan anak dan orang tua menjadi lebih bermakna.

Read more...

Wednesday, January 14, 2009

AGAR ANAK MANDIRI

5 Comments
Setiap orang tua menginginkan buah hatinya memiliki sifat mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Salah satu peran orang tua yang penting adalah menanamkan sikap mandiri pada anak yaitu dengan membentuk kebiasaan-kebiasaan yang baik. Kemandirian berkaitan erat dengan sikap disiplin. Kemandirian sudah dapat ditanamkan sejak bayi, misalnya dengan membentuk kebiasaan tidur si kecil pada waktunya. Menurut dra. Rahmitha Prathama (Psikolog anak), setiap tahap perkembangan anak selalu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Jika anak mampu menyelesaikan tugas perkembangannya, berarti anak bisa menjalankan dan mengembangkan kemampuannya sesuai dengan tuntutan usianya.
Ketika si kecil mampu untuk memegang botol susunya sendiri, berikan kesempatan itu. Ketika anak mulai bisa pegang sendok, beri kesempatan pada nya untuk makan sendiri, jangan terus-terusan disuapi. Kunci utama kemandirian pada anak adalah memberikan kesempatan pada anak untuk mencoba, beri dukungan, dan apresiasi kita atas usaha yang sudah dilakukannya sehingga muncul rasa percaya diri pada anak bahwa ia mampu mengerjakan. Jangan sampai kita (orangtua) merampas kesempatan anak untuk memiliki pengalamannya yang berarti dalam meyakinkan diri bahwa ia mampu mengerjakan dan melakukan sesuatu. Namun sebagai orang tua kita harus tetap mengawasi dan memberikan bimbingan yang konsisten dalam mendukung kegiatan anak.

Read more...

Tuesday, November 25, 2008

Belajar dari Si Kecil

1 Comments
Anak memiliki banyak sikap positif yang bisa Anda tiru agar hidup menjadi lebih mudah dan bahagia.

Kehadiran anak membuat hidup kita menjadi lebih berarti. Menyayangi, merawat dan mendidik anak membuat kita merasa lebih berbahagia. Tapi, tahukah Anda bahwa anak-anak bisa mengajari kita berbagai cara unik untuk menghargai hidup? Coba perhatikan betapa gigih usaha anak berusaha mengendarai sepeda roda duanya, atau bagaimana imajinasi si kecil membuatnya mampu menyusun balok menjadi istana raja yang megah. Jika Anda memperhatikan dengan baik, anak-anak bisa membantu Anda meraih kesuksesan dalam hidup. Tidak percaya? Coba baca berbagai karakter positif anak di bawah ini.

Tekun. Kebanyakan anak kecil begitu gigih dan tekun dalam melakukan hal yang mereka sukai. Anak tidak terlalu memahami definisi kegagalan dan tidak takut untuk mencoba melakukan hal yang mereka inginkan. Hasilnya? Kesuksesan. “Untuk belajar merangkak, bayi kecil akan berlatih ratusan kali sehari, dan gagal dengan jumlah yang sama banyaknya. Bayi akan terus berusaha, lalu gagal, dan mengulanginya lagi berkali-kali sampai akhirnya berhasil, Bagaimana dengan orang dewasa? Kita perlu percaya dengan kemampuan diri sendiri agar bisa berhasil. Untuk bisa melakukannya, yang dibutuhkan adalah ketekunan, fokus yang kuat, dan hasrat untuk mengejar apa yang kita inginkan sampai bisa mendapatkannya. Sama seperti keberhasilan si kecil merangkak, merambat dan akhirnya mampu berjalan dengan kedua kakinya tanpa dibantu. Semua berkat ketekunan.

Tak kenal takut. Anda mungkin sering merasa khawatir melihat batita cilik begitu aktif berlarian kesana sini, memanjat dan bergelantungan di palang titian tanpa merasa takut jika terjatuh. Anak-anak tidak melihat tantangan yang ada di hadapan mereka sebagai sesuatu yang mengerikan atau ditakuti, dan kita pun sebaiknya tidak menganggapnya demikian. Adriana Ginandjar, psikolog keluarga, mengatakan bahwa kita justru harus menerima dan merengkuh tantang serta rintang sebagai kesempatan untuk melompat ke jenjang kehidupan yang lebih baik.

Selalu ingin tahu. Anak-anak bersenang-senang dengan rasa ingin tahu mereka. Dengan bertanya, anak bereksplorasi, bereksperimen, dan belajar. Jadi lain kali apabila Anda menghadapi pertanyaan atau rintangan yang sulit, lakukan tiga langkah ini: eksplorasi, eksperimen, dan belajar.

Determinasi kuat. Pernah mencoba mengambil mainan yang sedang dipegang batita? Apa yang biasanya dilakukan anak? “Dia akan mencoba berbagai cara untuk meminta kembali mainan itu dari Anda, entah dengan menangis, merayu, merajuk, atau marah,” tak ada salahnya jika Anda meniru keinginan kuat yang dimiliki anak untuk mencoba mendapatkan apa yang dia inginkan. Bagi orang dewasa, usaha dan proses yang dilakukan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan adalah pengalaman yang berguna. Dan determinasi akan membuat usaha Anda menjadi lebih berarti.

Pekerja keras. Anak-anak adalah pekerja keras sejati. Butuh bukti? Saya sering sekali melihat kelakuan putraku yang asyik menyusun balok pasang. Meski berkali-kali balok itu jatuh sehingga bangunan yang dia susun hancur, putraku akan kembali memasangnya dari awal.Dengan mencontoh tidakan anak, kita akan menyadari bahwa kerja keras akan membuat pencapaian kita terasa begitu indah. Jadi jangan terus menerus mengeluhkan kerja keras yang Anda alami. Rayakan keberhasilan yang datang dari usaha keras Anda.

Tulus hati. Siapa yang paling bisa mencintai Anda sepenuh hati? Hanya si kecil yang bisa melakukannya dengan tulus. Anak menerima Anda apa adanya, bahkan mengidolakan Anda, serta tetap mencintai Anda meski misalnya, Anda orang paling keras kepala sedunia. Coba lihat sekeliling Anda dan mulai hargai orang lain apa adanya. Cari nilai positif dari orang-orang disekitar Anda dan bantu mereka untuk maju.




sumber : http:// www.sahabatnestle.co.id

Read more...

Wednesday, November 12, 2008

Memperkuat Keimanan Anak

1 Comments
Anak adalah dambaan orang tua dan merupakan amanah yang telah dititipkan oleh Allah kepada orang tua. Menjadi pendidik dan pembimbing bagi anak adalah tugas dan tanggung jawab orang tua, khususnya ibu. Harapan orang tua untuk menjadikan anaknya sebagai generasi shalih, yang berguna bagi orang tua, masyarakat dan agamanya akan dapat terwujud dengan membekali dan memperkuat keimanan sang anak yaitu dengan cara :

1. Membuat hati anak selalu berhubungan dengan Allah, yaitu dengan menanamkan prinsip-prinsip tauhid dalam hati anak diantaranya yaitu iman, cinta Allah dan Rasul-Nya, taat kepada keduanya, serta takut kepada siksaan Allah dan mengharap pahala dari-Nya.
2. Berusahalah agar kita (orang tua) merasa selalu berada di bawah pengawasan Allah kapan dan dimanapun kita berada. Perasaan inilah yang dinamakan oleh para pakar pendidikan dengan istilah "kontrol agama"
3. Berusahalah agar pengarahan-pengarahan yang ditujukan kepada anak didasarkan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.
4. Tanamkanlah rasa hormat kepada Al-Qur'an Al-Karim dalam hati anak. Hal itu harus dilakukakn dengan menggunakan gaya bahasa yang mudah dimengerti anak dan menarik. Misalnya membiasakan diri untuk berpegang teguh pada etika dalam membaca Al-Qur'an deperti membaca Ta'awwudz, basmalah, memuliakan mush-haf Al-Qur'an.
5. Berusahalah agar suasana rumah anda menjadi harum dengan lantunan ayat-ayat Allah yang selalu dibacakan di dalamnya, meskipun hanya beberapa saat saja di waktu siang, pada waktu pagi dan sebelum tidur.
6. Ajarilah anak-anak dengan dzikir-dzikir dan etika-etika nabi.
7. Berusahalah agar anak selalu berhubungan dengan guru agama.
Read more...
 

Lindung's Blog